Pengurus Daerah (Pengda) cabang olahraga beladiri Hapkido Sulawesi Tengah akan dilantik pada Minggu 19 Februari 2017 hari ini. Meskipun belum terdaftar secara resmi di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) organisasi ini terus memperlebar sayapnya ke berbagai daerah, selain tujuannya untuk memenuhi syarat agar bisa terdaftar di komite olahraga nasional itu, juga untuk mendukung ketahanan nasional dengan budaya beladiri.

“Saat ini baru ada 25 provinsi di Indonesia (Pengda Hapkido). Memang Hapkido sebenarnya merupakan beladiri yang sudah lama, hanya dari dulu tidak ada yang kembangkan di Indonesia sehingga baru pada beberapa tahun ini kita kembangkan di Indonesia,” ungkap Founder Hapkido Indonesia Vincentius Yoyok Suryadi saat ditemui tengah berlatih bersama di Hotel Grand Duta Palu, Sabtu 18 Februari 2017.

Master Yoyok (51), sapaan akrabnya, yang merupakan pendiri Hapkido Indonesia itu menjelaskan Hapkido pertama kali dikenal di Korea Selatan sejak 1950. Sementara 2014 baru secara resmi berdiri di Indonesia.

Meski belum terdaftar secara resmi di KONI, Namun Hapkido sudah menggelar Kejurnas pada 2016 lalu. Selanjutnya 2017, Hapkido Indonesia sudah bisa kirimkan anggotanya ikut Kejuaraan dunia di Australia. Dengan sudah mengikuti berbagai kejuaraan, niat mereka masuk KONI juga lebih lancar. Prosesnya tengah berjalan, ditargetkan tahun ini bisa terdaftar.

Hapkido sendiri merupakan beladiri yang selain menggunakan teknik lunak, juga bermain keras, lebih mirip beladiri Young Modoo. Dari nama juga mirip dengan Aikido.

“Hap adalah harmoni dan Ki adalah tenaga jadi Hapkido adalah seni mengharmonikan tenaga," katanya sambil memeragakan sebagian gerakan beladiri tersebut kepada wartawan.

Menurutnya dalam beladiri Hapkido lebih diajarkan agar tidak mudah melakukan refleks melawan terhadap lawan tapi lebih menyalurkan kekuatan untuk melepaskan dan memanfaatkan tenaga lawan. Dalam Hapkido juga menggabungkan teknik bantingan, kuncingan dan lain-lain.

Untuk mempelajari Hapkido juga tidak ada pembatasan umur. Semua usia dan genre, baik anak usia dini, perempuan, laki-laki, dan usia lanjut dikatakannya bisa ikut berlatih Hapkido.

“Tidak ada batasan usia. Sepanjang dia mampu ikuti gerakan maka dia bisa. Karena kita tidak melatih teknik tertentu, kita menggabungkan teknik lunak dan keras,” jelas dia.

Selain itu teknik beladiri Hapkido juga bukan merupakan beladiri tangan kosong saja tapi juga mempelajari beladiri dengan menggunakan alat atau senjata.

Di Sulawesi sendiri Hapkido sudah berdiri di Sulawesi Tengah, Pengdanya baru akan diresmikan pada hari ini. Selain di Sulawesdi Tengah juga sudah berdiri di Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Sementara di Gorontalo dan beberapa daerah lainnya di Sulawesi juga sudah ada masyarakat yang berlatih Hapkido namun belum terbentuk organisasinya.

“Baru merintis, karena pelatih ini harus mempunyai lisensi, harus punya kerterampilan standar tertentu baru dia bisa mulai membuka tempat latihan secara resmi,” katanya.

Master Yoyok berharap di Sulteng Hapkido bisa berkembang dengan baik, kemudian bisa menjadi salah satu beladiri yang menarik keluarga.

“Bukan hanya anaknya saja tapi sama-sama. Kita juga harapkan nantinya bisa membawa nama baik prestasi  daerah ini juga, karena kita ada pertandingannya juga,” sebut Master Yoyok.

Dalam waktu dekat akan diselenggarakan kejurnas ke-2 Hapkido di Jogjakarta, dia harap Sulteng mengirimkan satu atau dua orang wakilnya untuk ikut di kejurnas tersebut.

“Memang ini baru, tapi Sulteng harus segera agar jangan ketinggalan ketika daerah lain sudah bagus. Ketika tahun ini kita sudah didaftarkan ke KONI, di situ kita harus cepat ikut jangan tunggu resmi baru ikut,” kata dia.

Dalam kepengurusan Hapkido Sulawesi Tengah sendiri akan diketuai oleh Dedi Irawan, kemudian wakilnya Ady Kasmadin, sekretaris Irsyadul Anam Malaba. Sementara Bupati Donggala Kasman Lassa diangkat sebagai penasehat Hapkido Indonesia Sulawesi Tengah.

Pelantikan Pengda Hapkido sendiri mengangkat tema Pelantikan Pengurus Daerah Dan Short Course Hapkido Indonesia Sulawesi Tengah ‘Harmoni Perkuat Ketahanan Nasional Dengan Budaya Beladiri Keluarga’. Kegiatannya berlangsung di Hotel Grand Duta Palu, Minggu 19 Februari 2017 hari ini.

 

sumber : Palu, Metrosulawesi.com

http://www.metrosulawesi.com/article/bupati-donggala-jadi-penasehat-hapkido